Pernahkah kita baru belajar ketika ujian sudah tinggal satu atau dua hari lagi? Buku dibuka, catatan ditumpuk di meja, lalu kita berusaha memahami sebanyak mungkin materi dalam waktu yang sangat singkat. Anehnya, malam sebelum ujian kita merasa sudah menguasai semuanya. Namun beberapa hari kemudian, sebagian besar materi tersebut mulai terlupakan.
Kebiasaan belajar seperti ini dikenal sebagai cramming, yaitu belajar dalam jumlah besar sekaligus dalam waktu yang relatif singkat. Cara ini memang dapat membantu seseorang mengingat banyak informasi untuk sementara waktu, tetapi informasi tersebut cenderung lebih mudah hilang dari ingatan. Sebaliknya, ada strategi belajar yang disebut distributed practice, yaitu belajar dalam waktu yang lebih singkat tetapi dilakukan secara rutin dan berulang.
Pertanyaannya, mana yang sebenarnya lebih efektif: belajar sekaligus banyak atau belajar sedikit-sedikit tetapi sering?
Cramming sangat mudah dilakukan karena hasilnya terasa cepat. Misalnya, seorang siswa memiliki ujian matematika besok pagi. Karena sebelumnya belum belajar, ia menghabiskan lima atau enam jam malam itu untuk membaca buku, menghafalkan rumus, dan mengerjakan soal.
Pada keesokan harinya, siswa tersebut mungkin mampu menjawab cukup banyak pertanyaan karena informasi yang baru dipelajari masih berada dalam ingatan jangka pendek. Inilah yang membuat cramming terasa efektif.
Masalahnya muncul ketika informasi tersebut tidak digunakan atau diulang kembali. Banyak materi yang dipelajari secara terburu-buru tidak benar-benar dipahami secara mendalam. Akibatnya, setelah ujian selesai, informasi tersebut perlahan menghilang.
Belajar sekaligus dalam jumlah banyak memang dapat membantu menghafal banyak informasi dalam satu waktu, tetapi informasi tersebut lebih mudah terlupakan karena cenderung hanya bertahan dalam ingatan jangka pendek.
Cramming bukan berarti sama sekali tidak berguna. Dalam kondisi tertentu, seperti menghadapi ujian yang sangat dekat, belajar intensif masih dapat membantu. Namun, jika tujuan kita adalah memahami konsep dan mengingatnya dalam jangka panjang, mengandalkan cramming saja bukanlah strategi yang ideal.
Berbeda dengan cramming, distributed practice atau latihan terdistribusi membagi proses belajar ke dalam beberapa sesi yang lebih pendek dan dilakukan secara berkala.
Daripada belajar tiga jam sekaligus pada hari Minggu, misalnya, seorang siswa dapat belajar selama 30 menit setiap hari dari Senin hingga Sabtu. Total waktu belajarnya mungkin hampir sama, tetapi prosesnya dibuat lebih tersebar.
Otak membutuhkan waktu untuk memproses informasi. Dengan mencicil materi dalam durasi pendek, misalnya sekitar 25–30 menit sehari, otak mendapatkan kesempatan untuk melakukan konsolidasi memori. Informasi yang dipelajari kemudian lebih mungkin masuk ke dalam ingatan jangka panjang dan membantu membangun pemahaman konsep yang lebih mendalam.
Inilah alasan mengapa belajar tidak harus selalu dilakukan dalam waktu lama. Yang lebih penting adalah konsistensi dan pengulangan.
Bayangkan seorang anak sedang belajar bahasa Inggris. Ia ingin menguasai 50 kosakata baru. Dengan cramming, ia mungkin mencoba menghafalkan seluruh 50 kata dalam satu malam. Keesokan harinya ia mungkin masih dapat mengingat sebagian besar kata tersebut. Namun seminggu kemudian, banyak yang sudah terlupakan.
Dengan distributed practice, anak tersebut dapat mempelajari sekitar 8–10 kata setiap hari. Pada hari berikutnya, ia mengulang kata sebelumnya sambil menambahkan kata baru. Dengan demikian, proses belajar tidak hanya mengenalkan informasi, tetapi juga memberikan kesempatan kepada otak untuk mengingatnya kembali.
Belajar bukan sekadar memasukkan informasi ke dalam otak. Agar informasi dapat digunakan dalam jangka panjang, otak perlu memproses, menghubungkan, dan menguatkan kembali informasi tersebut.
Ketika kita mempelajari sesuatu kemudian berhenti sejenak, otak memiliki kesempatan untuk memproses informasi yang baru diterima. Ketika kita kembali mempelajarinya beberapa waktu kemudian, kita memberikan kesempatan kepada otak untuk mengaktifkan kembali informasi tersebut.
Proses ini membuat belajar menjadi lebih dari sekadar menghafal. Seseorang mulai membangun hubungan antara informasi baru dengan pengetahuan yang sudah dimiliki.
Karena itu, belajar selama 25 menit hari ini, kemudian mengulanginya besok dan beberapa hari berikutnya, dapat lebih bermanfaat daripada memaksakan diri belajar selama berjam-jam hanya dalam satu malam.
Ada kesalahpahaman bahwa distributed practice berarti mengurangi waktu belajar. Padahal, konsep utamanya bukan semata-mata jumlah waktu, melainkan bagaimana waktu tersebut didistribusikan.
Seseorang yang belajar 30 menit setiap hari selama enam hari tetap menghabiskan tiga jam. Bedanya, tiga jam tersebut tidak dilakukan dalam satu sesi panjang.
Pembagian waktu seperti ini juga dapat membuat belajar terasa lebih ringan. Anak tidak perlu menghadapi tumpukan materi yang terasa menakutkan. Sebaliknya, ia hanya perlu menyelesaikan satu bagian kecil pada satu waktu.
Hal ini sangat penting bagi anak karena proses belajar yang terlalu lama dapat membuat perhatian menurun dan menimbulkan kelelahan. Dengan sesi yang lebih pendek, anak memiliki kesempatan untuk beristirahat dan kembali belajar ketika pikirannya lebih siap.
Distributed practice sebenarnya dapat diterapkan dengan sederhana. Orang tua dan guru tidak harus membuat program belajar yang rumit.
Misalnya, seorang anak sedang belajar matematika. Hari pertama dapat digunakan untuk memahami konsep dan mengerjakan beberapa soal dasar. Hari berikutnya, ia mengerjakan soal baru sekaligus mengulang beberapa soal sebelumnya. Beberapa hari kemudian, ia kembali menguji dirinya sendiri tanpa melihat catatan.
Cara yang sama dapat diterapkan pada pelajaran bahasa, sains, sejarah, bahkan keterampilan seperti bermain musik atau menggambar.
Kuncinya adalah memberikan jarak antar sesi belajar dan melakukan pengulangan secara berkala.
Orang tua juga dapat membantu dengan mengubah cara pandang anak terhadap belajar. Anak tidak perlu berpikir bahwa belajar harus dilakukan berjam-jam agar dianggap serius. Sebaliknya, anak dapat dibiasakan memahami bahwa belajar 20–30 menit secara konsisten juga merupakan sebuah kemajuan.
Pada akhirnya, pertanyaan “lebih baik belajar sedikit-sedikit atau sekaligus banyak?” memiliki jawaban yang cukup jelas jika tujuan kita adalah pembelajaran jangka panjang.
Cramming dapat membantu untuk kebutuhan jangka pendek, tetapi distributed practice lebih cocok untuk membangun pemahaman dan ingatan yang bertahan lebih lama.
Belajar sedikit-sedikit tetapi sering memberikan kesempatan bagi otak untuk memproses informasi, mengulangnya, dan mengonsolidasikannya ke dalam memori jangka panjang.
Jadi, daripada menunggu ujian semakin dekat lalu belajar semalaman, mengapa tidak mulai mencicil dari sekarang?
Tidak perlu langsung satu jam. Mulailah dari 20–30 menit. Pilih satu materi kecil, pelajari dengan fokus, kemudian kembali lagi ke materi tersebut pada hari berikutnya.
Karena dalam belajar, kemajuan kecil yang dilakukan secara konsisten sering kali lebih kuat daripada usaha besar yang hanya dilakukan sesekali.


Leave a Reply