English Indonesian

5 Jenis Pertanyaan yang Membantu Murid Berpikir Lebih Dalam

Dalam proses pembelajaran, pertanyaan sering kali menjadi jembatan antara materi yang disampaikan guru dan pemikiran murid. Namun, tidak semua pertanyaan memiliki dampak yang sama. Ada pertanyaan yang hanya menghasilkan jawaban singkat seperti “ya”, “tidak”, atau “sudah”. Ada pula pertanyaan yang membuat murid berhenti sejenak, berpikir, mencari alasan, menghubungkan informasi, bahkan mempertimbangkan sudut pandang yang berbeda.

Karena itu, kemampuan guru dalam mengajukan pertanyaan merupakan bagian penting dari pembelajaran yang bermakna atau meaningful learning. Guru bukan hanya perlu menyampaikan materi dengan baik, tetapi juga perlu merancang pertanyaan yang mendorong murid untuk benar-benar menggunakan pikirannya.

Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah pertanyaan Socratic. Teknik ini terinspirasi dari metode bertanya Socrates yang mendorong seseorang untuk memeriksa pemikirannya sendiri melalui pertanyaan lanjutan. Dalam konteks pendidikan, pertanyaan semacam ini dapat membantu murid tidak sekadar memberikan jawaban, tetapi memahami mengapa mereka memberikan jawaban tersebut.

Berikut lima jenis pertanyaan yang dapat digunakan guru untuk mendorong murid berpikir lebih dalam.

1. Pertanyaan Klarifikasi

Jenis pertanyaan pertama adalah pertanyaan klarifikasi. Tujuannya adalah membantu murid menjelaskan kembali apa yang mereka maksud dengan lebih jelas.

Sering kali murid memberikan jawaban yang sangat singkat. Misalnya, ketika guru bertanya tentang sebuah masalah, murid menjawab, “Itu nggak adil.” Jika guru langsung berpindah kepada murid lain, kesempatan untuk menggali pemikiran tersebut bisa hilang.

Guru dapat melanjutkan dengan pertanyaan seperti, “Maksud kamu bagaimana ketika bilang itu ‘nggak adil’?” atau “Bisa kasih contoh dari apa yang kamu maksud?”

Pertanyaan semacam ini membuat murid belajar mengubah pemikiran yang masih samar menjadi penjelasan yang lebih konkret.

Klarifikasi juga membantu guru mengetahui apakah murid benar-benar memahami konsep atau hanya menggunakan istilah tertentu karena mengikuti jawaban teman. Dengan meminta penjelasan, guru dapat melihat proses berpikir murid, bukan hanya hasil akhirnya.

2. Pertanyaan untuk Menggali Asumsi

Setiap jawaban biasanya berangkat dari sesuatu yang diyakini sebelumnya. Sesuatu tersebut dapat berupa pengalaman, informasi, keyakinan, atau asumsi yang belum tentu benar.

Karena itu, guru dapat mengajak murid memeriksa dasar pemikirannya melalui pertanyaan seperti, “Kenapa kamu yakin itu benar?” atau “Apa yang membuat kamu berpikir begitu dari awal?”

Misalnya, seorang murid mengatakan bahwa seseorang malas karena selalu terlambat mengumpulkan tugas. Guru dapat bertanya, “Apa yang membuat kamu menyimpulkan bahwa dia malas?”

Pertanyaan ini tidak bertujuan menyalahkan murid. Sebaliknya, murid diajak menyadari bahwa sebuah kesimpulan bisa saja dibangun berdasarkan asumsi tertentu.

Kemampuan mengenali asumsi sangat penting karena kehidupan sehari-hari dipenuhi informasi yang belum tentu lengkap. Dengan membiasakan murid mempertanyakan asumsi, guru membantu mereka menjadi lebih kritis dan tidak mudah menerima kesimpulan begitu saja.

3. Pertanyaan yang Menggali Alasan dan Bukti

Murid terkadang memberikan jawaban karena merasa jawabannya masuk akal, karena pernah mendengar dari orang lain, atau karena sebagian besar teman memberikan jawaban yang sama.

Di sinilah pertanyaan tentang alasan dan bukti menjadi penting.

Guru dapat bertanya, “Dari mana kamu tahu itu?” atau “Apa bukti yang bisa mendukung jawabanmu?”

Pertanyaan tersebut mengajarkan murid bahwa sebuah pendapat yang kuat bukan hanya tentang apa yang kita pikirkan, tetapi juga tentang alasan yang mendasarinya.

Misalnya, dalam pelajaran sains, seorang murid mengatakan bahwa tanaman akan tumbuh lebih cepat jika diletakkan di tempat tertentu. Guru dapat bertanya, “Apa pengamatan yang membuat kamu menyimpulkan begitu?” atau “Data apa yang bisa mendukung pendapatmu?”

Dengan demikian, murid tidak hanya belajar memberikan jawaban, tetapi juga belajar mempertanggungjawabkan jawaban tersebut.

Kebiasaan mencari bukti juga sangat relevan di luar sekolah. Di tengah banyaknya informasi di internet dan media sosial, kemampuan membedakan opini, asumsi, dan fakta menjadi semakin penting.

4. Pertanyaan dari Sudut Pandang Lain

Sebuah persoalan hampir selalu dapat dilihat dari lebih dari satu sisi. Namun, murid sering kali hanya melihat masalah berdasarkan perspektif yang pertama kali muncul dalam pikirannya.

Guru dapat memperluas cara berpikir mereka dengan memberikan pertanyaan dari sudut pandang lain.

Contohnya, “Kalau dilihat dari sisi sebaliknya, bagaimana pendapatmu?” atau “Menurutmu, apa pendapat orang yang tidak setuju?”

Pertanyaan ini mengajarkan murid bahwa berbeda pendapat tidak selalu berarti salah satu pihak pasti bodoh atau keliru. Bisa jadi masing-masing pihak memiliki pengalaman, kebutuhan, atau informasi yang berbeda.

Misalnya, ketika membahas penggunaan telepon genggam di sekolah, murid mungkin langsung mengatakan bahwa ponsel harus dilarang karena mengganggu konsentrasi. Guru dapat bertanya, “Bagaimana kalau dilihat dari sisi murid yang menggunakannya untuk mencari informasi pembelajaran?”

Dengan begitu, murid belajar melihat persoalan secara lebih luas dan mengembangkan kemampuan memahami perspektif orang lain.

5. Pertanyaan tentang Implikasi dan Konsekuensi

Jenis pertanyaan terakhir membantu murid berpikir lebih jauh dari jawaban awal mereka.

Guru dapat bertanya, “Kalau itu benar, terus apa akibatnya?” atau “Ini bakal memengaruhi apa lagi menurutmu?”

Pertanyaan semacam ini mengajak murid melihat hubungan antara satu gagasan dengan dampak yang mungkin muncul setelahnya.

Sebagai contoh, ketika murid mengatakan bahwa sekolah sebaiknya memberikan lebih banyak pekerjaan rumah agar siswa semakin rajin belajar, guru dapat bertanya, “Kalau jumlah tugas ditambah, apa dampaknya bagi waktu istirahat siswa?” atau “Apakah semua murid akan mendapatkan manfaat yang sama?”

Murid kemudian belajar bahwa sebuah keputusan mungkin memiliki konsekuensi yang tidak langsung terlihat.

Kemampuan memikirkan implikasi juga merupakan bagian penting dari pengambilan keputusan. Seseorang tidak hanya perlu bertanya, “Apa yang saya inginkan?” tetapi juga, “Apa yang mungkin terjadi jika saya memilih hal tersebut?”

 

Pertanyaan yang efektif biasanya tidak muncul secara kebetulan. Guru perlu memikirkannya sejak tahap perencanaan pembelajaran.

Pertanyaan dapat disusun berdasarkan tujuan pembelajaran. Jika tujuan pembelajaran adalah membuat murid memahami sebuah konsep, guru dapat menyiapkan pertanyaan klarifikasi. Jika ingin melatih kemampuan berpikir kritis, guru dapat menyiapkan pertanyaan tentang asumsi, alasan, dan bukti. Jika ingin mengembangkan kemampuan melihat masalah secara luas, pertanyaan sudut pandang lain dapat digunakan.

Dengan perencanaan seperti ini, pertanyaan tidak hanya menjadi pelengkap pembelajaran, tetapi menjadi bagian dari strategi mengajar.

Pada akhirnya, mengajar bukan hanya tentang memberikan jawaban. Guru juga memiliki peran penting dalam membantu murid menemukan pertanyaan yang tepat, memeriksa pemikirannya sendiri, mencari bukti, mempertimbangkan perspektif lain, dan memahami konsekuensi dari sebuah gagasan.

Mungkin karena itu, ketika seorang murid memberikan jawaban yang terlihat asal-asalan, respons terbaik tidak selalu berupa, “Jawabanmu salah.”

Terkadang, pertanyaan yang tepat justru jauh lebih powerful:

“Kenapa kamu berpikir begitu?”

Dari satu pertanyaan sederhana tersebut, percakapan pembelajaran bisa berkembang menjadi proses berpikir yang jauh lebih dalam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *