Selama ini, pembelajaran di sekolah sering dimulai dari pertanyaan: “Apa yang harus dipelajari murid?” Guru menentukan tema, menyampaikan materi, memberikan instruksi, lalu meminta murid menghasilkan sebuah tugas. Setelah itu, hasil pekerjaan dinilai berdasarkan kriteria tertentu.
Pola seperti ini tentu memiliki tempat dalam pendidikan. Namun, ketika pembelajaran ingin mendorong murid menjadi lebih aktif, kreatif, peduli terhadap lingkungan sekitar, dan mampu mengambil tindakan nyata, kita membutuhkan titik awal yang berbeda.
Salah satu pendekatan yang menarik adalah FIDS, singkatan dari Feel, Imagine, Do, Share atau Rasakan, Bayangkan, Lakukan, Bagikan. FIDS dikembangkan oleh Kiran Bir Sethi melalui gerakan Design for Change sejak 2009. Kerangka ini digunakan untuk mendorong anak melihat persoalan di sekitarnya, membayangkan kemungkinan perubahan, melakukan tindakan nyata, kemudian membagikan pengalaman dan dampaknya.
Yang menarik dari FIDS bukan sekadar empat tahapnya, melainkan perubahan cara pandang terhadap posisi murid dalam pembelajaran. Murid tidak hanya menjadi penerima instruksi. Mereka ditempatkan sebagai seseorang yang mampu mengenali masalah, menghasilkan gagasan, melakukan sesuatu, dan menyampaikan perubahan yang mereka ciptakan.
Tahap pertama adalah Feel, atau merasakan.
Pada tahap ini, murid diajak menemukan persoalan yang benar-benar mereka rasakan. Bukan sekadar masalah yang dianggap penting oleh guru, bukan pula tema yang sudah ditentukan dalam modul.
Perbedaannya terlihat sederhana, tetapi sebenarnya sangat penting.
Misalnya guru ingin mengajarkan tentang lingkungan. Dalam pendekatan yang biasa, guru mungkin langsung memberikan tema “pengelolaan sampah”, kemudian murid diminta membuat poster atau proyek tentang sampah.
Dalam FIDS, prosesnya bisa dimulai dengan pertanyaan yang jauh lebih terbuka: “Apa yang paling mengganggu kalian di sekolah, rumah, atau lingkungan sekitar?”
Jawaban murid mungkin beragam. Ada yang merasa kantin terlalu banyak menghasilkan sampah plastik. Ada yang terganggu karena toilet sekolah kotor. Ada yang melihat teman sering membuang makanan. Ada pula yang merasa tidak nyaman karena halaman sekolah terlalu panas.
Masalah-masalah tersebut berasal dari pengalaman anak sendiri.
Di sinilah pembelajaran mendapatkan hubungan emosional dengan kehidupan nyata. Anak tidak mengerjakan proyek hanya karena guru memintanya. Mereka memiliki alasan personal untuk peduli terhadap persoalan tersebut.
Setelah menemukan masalah, tahap berikutnya adalah Imagine, atau membayangkan.
Murid kemudian diajak berpikir: “Bagaimana keadaan ini bisa diperbaiki?”
Tahap ini bukan kompetisi untuk menemukan satu jawaban paling benar. Justru anak perlu diberikan ruang untuk menghasilkan sebanyak mungkin kemungkinan.
Misalnya mereka menemukan masalah sampah plastik di sekolah. Mereka bisa membayangkan berbagai solusi: membawa botol minum sendiri, membuat sistem pengumpulan plastik, mengubah kemasan kantin, membuat kampanye, membuat tempat sampah khusus, mengolah sampah menjadi karya seni, atau bahkan menciptakan sistem penghargaan bagi kelas yang berhasil mengurangi sampah.
Beberapa ide mungkin terdengar tidak realistis. Namun, itulah bagian penting dari proses kreatif.
Guru tidak perlu buru-buru mengatakan, “Itu tidak mungkin.” Tugas guru adalah membantu anak mengeksplorasi gagasan, mengajukan pertanyaan, dan kemudian mengarahkan mereka untuk mempertimbangkan konsekuensi serta kelayakan setiap pilihan.
Dengan demikian, anak belajar bahwa kreativitas tidak selalu dimulai dari ide yang sempurna. Sering kali, ide yang baik muncul setelah seseorang berani menghasilkan banyak kemungkinan.
Tahap ketiga adalah Do, atau melakukan.
Inilah bagian yang membedakan proyek nyata dari sekadar tugas sekolah.
Dalam tugas biasa, anak mungkin diminta membuat rencana, menulis laporan, membuat poster, kemudian mengumpulkannya. Proses dapat berhenti ketika produk selesai.
Dalam FIDS, produk bukan tujuan akhirnya. Tindakan dan perubahan nyata menjadi bagian penting dari pembelajaran.
Jika anak ingin mengurangi sampah plastik, mereka tidak berhenti pada pembuatan poster bertuliskan “Kurangi Plastik”. Mereka perlu mencoba melakukan sesuatu. Mereka mungkin mengadakan kampanye, mengajak kantin mengurangi penggunaan plastik, membuat sistem pemilahan sampah, atau melakukan eksperimen untuk melihat apakah kebiasaan warga sekolah berubah.
Tindakan tersebut tidak harus selalu besar.
Perubahan kecil tetap memiliki nilai pendidikan. Satu sudut sekolah yang menjadi lebih bersih, satu kebiasaan yang berubah, atau satu orang yang mulai melihat masalah dari sudut pandang berbeda merupakan bagian dari proses belajar.
Karena itu, salah satu gagasan penting dalam materi tersebut adalah menetapkan tenggat tindakan, bukan hanya tenggat laporan.
Anak perlu belajar bahwa ide memiliki konsekuensi. Ketika seseorang mengatakan ingin memperbaiki sesuatu, pertanyaan berikutnya adalah: “Lalu, apa yang akan kamu lakukan?”

Tahap terakhir adalah Share, atau membagikan.
Setelah melakukan tindakan, murid menceritakan apa yang mereka lakukan, apa yang terjadi, apa yang berubah, dan apa yang mereka pelajari.
Namun, berbagi tidak harus selalu berarti presentasi di depan teman sekelas.
Murid dapat membagikan pengalaman kepada warga sekolah, keluarga, komunitas, pengelola lingkungan, atau pihak lain yang berkaitan dengan masalah tersebut. Dengan cara ini, anak belajar bahwa karya mereka tidak hanya memiliki nilai untuk mendapatkan nilai dari guru.
Ada orang lain yang mungkin membutuhkan informasi tersebut.
Tahap ini juga membantu membangun keyakinan “I can”—bahwa anak mampu melakukan sesuatu untuk menciptakan perubahan.
Pesan tersebut sangat penting dalam pendidikan. Anak yang terbiasa hanya menerima instruksi mungkin tumbuh dengan pertanyaan, “Apa yang harus saya lakukan?” Sebaliknya, pembelajaran yang memberi ruang bagi inisiatif dapat mendorong anak bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan?”
Coba bandingkan FIDS dengan pola pembelajaran yang sering digunakan: tema → instruksi → produk → nilai.
Dalam pola tersebut, guru menjadi titik awal. Guru menentukan apa yang dipelajari, bagaimana tugas dikerjakan, produk apa yang harus dibuat, dan bagaimana hasilnya dinilai.
FIDS membalik titik awal tersebut menjadi rasa → gagasan → tindakan → cerita.
Perbedaannya bukan berarti kurikulum harus ditinggalkan. Justru materi tersebut menekankan bahwa FIDS bukan pengganti kurikulum. FIDS dapat menjadi cara untuk menjalankan kurikulum yang sudah ada dengan memberikan ruang lebih besar kepada pengalaman, pertanyaan, kreativitas, dan tindakan murid.
Misalnya dalam pelajaran sains, guru tetap dapat mengajarkan konsep pencemaran lingkungan. Namun, daripada hanya meminta anak membaca materi dan menjawab soal, guru dapat mengajak mereka mengamati persoalan lingkungan yang benar-benar mereka temui. Konsep sains kemudian digunakan untuk memahami masalah dan mencari kemungkinan solusinya.
Dengan demikian, pengetahuan akademik tidak berdiri sendiri. Pengetahuan menjadi alat untuk memahami dan menghadapi dunia nyata.
Penerapan FIDS juga mengubah peran guru.
Guru perlu belajar menahan diri untuk tidak langsung memberikan jawaban. Ketika murid menghasilkan ide yang tampaknya sederhana atau bahkan tidak realistis, guru dapat menggunakan pertanyaan untuk membantu mereka mengembangkannya.
“Mengapa kamu memilih ide itu?”
“Apa yang mungkin terjadi jika kalian mencobanya?”
“Siapa yang bisa membantu?”
“Apa langkah pertama yang bisa dilakukan minggu ini?”
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini membuat guru tetap berperan penting, tetapi bukan sebagai satu-satunya sumber solusi.
Guru menjadi fasilitator yang membantu murid bergerak dari masalah menuju kemungkinan, dari kemungkinan menuju tindakan, dan dari tindakan menuju refleksi.
Pada akhirnya, kekuatan FIDS bukan hanya terletak pada empat kata Feel, Imagine, Do, Share. Kekuatan utamanya ada pada perubahan titik awal pembelajaran.
Anak tidak selalu harus memulai dari apa yang sudah ditentukan orang dewasa. Sesekali, mereka perlu memulai dari sesuatu yang mereka rasakan, membayangkan sesuatu yang berbeda, mencoba melakukan perubahan, lalu menceritakan apa yang mereka temukan.
Karena pendidikan bukan hanya tentang membuat anak mengetahui lebih banyak hal. Pendidikan juga tentang membantu mereka menyadari bahwa mereka mampu melakukan sesuatu dengan apa yang mereka ketahui.
Dan mungkin, di situlah sebuah proyek sekolah berhenti menjadi sekadar tugas—dan mulai menjadi pengalaman belajar yang benar-benar bermakna.


Leave a Reply